Potensi Dan Pengembangan Geowisata Di Kalimantan Timur

Potensi Dan Pengembangan Geowisata Di Kalimantan Timur

Selalu ada saja ada hal yang baru dan berbeda tiap kali Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur ditunjuk sebagai Pembicara Webinar tengah Pandemi Covid 19.

Seperti halnya hari ini (12/9), Dinas pariwisata Provinsi Kalimantan Timur yang diwakili oleh kepala dinas pariwisata Dra. Sri Wahyuni, MPP kembali mengikuti Webinar sabagai Pembicara pada acara yang di gagas oleh IAGI (Indonesian Association of Geologist) dan MAGI (Masyarakat Geowisata Indonesia) dengan mengangkat tema Potensi & Pengembangan Geowisata Di Kalimantan Timur.

“Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi menyambut baik dengan diundangnya kami sebagai pemateri, pada sesi tanya jawab ada topik yang menarik bagi kami, yaitu susur Delta Mahakam arena dapat diolah menjadi pola perjalanan wisata baru dengan penggalian lebih lanjut tentunya seperti : Bagaimana menyusuri alur delta Mahakam yang aman, Histori penunjang yang menyertai serta memperkuat keadaan alam yang ada serta moda transportasi yang menunjang adalah sebagian dari hal yang perlu dibahas lebih lanjut, sebelum menawarkannya pada para stahelholder.

Kedepannya, setelah acara ini mungkin kita akan menyelenggarakan pertemuan Forum Group Diskusi (FGD) yang nantinya dapat melibatkan para narasumber dari IAGI/ MAGI, Dosen, HPI, Stakeholder maupun Instansi vertikal yang bersinggungan secara langsung dengan Pariwisata.”Tutur, Sri Wahyuni.

Tak lupa juga Sri Wahyuni menambahkan bahwasanya dalam waktu dekat DISPAR Provinsi Kaltim akan melaksanakan pelatihan pramuwisata madya dan sertifikasinya, serta memasukkan program Raperda tentang Perlindungan Pemandu Wisata Kaltim pada Rencana Kerja (RENJA) tahun 2021. Oleh sebab itu kami menghimbau kepada para rekan yang telah berkecimpung dalam kegiatan pemandu wisata untuk bergabung dalam HPI Kabupaten/ Kota. Karena Kuantitas dan Profesionalisme Pemandu Wisata menjadi hal penting dalam penerapannya.

Webinar ini merupakan acara yang ke-21 dalam kurun Juli-Oktober, dimana IAGI/MAGI memiliki program "Satu Pengurus Daerah, Satu Geowisata"

Selain Kepala Dinas Pariwisata Provinsi turut serta juga hadir para narasumber : Fajar Alam, ST selaku Ketua IAGI PENGDA Kaltim, Iwan Prabowo, ST. M. Sc selaku Dosen STI MIGAS Balikpapan, dan Moderator Bapak Ir. Oman Abdurahman, MT selaku wakil Ketua Masyarakat Geowisata Indonesia

“Geowisata sangat berpengaruh terhadap perkembangan pariwisata jika di telisik Geowisata, berbicara tentang ragam bentang alam yang ada di suatu kawasan. Bentang alam ini, meliputi bentang alam yang ada di daratan maupun lautan.

Pada dua kawasan tersebut, telah terjadi proses jutaan tahun yang membentuk keragaman saat ini, sebagai bagian dari proses geologi yang utamanya berupa erosi, transportasi, sedimentasi, pembatuan, pembentukan perbukitan pegunungan hingga patahan geologi.

Cerita sejarah kebumian, yang ada pada ragam kondisi geologi bumi Kalimantan Timur ini, bersifat khas.

Pembentukan Delta Mahakam, yang bentuk purbanya kini menjadi bebatuan dari Kutai Barat hingga pesisir timur Kalimantan Timur, memiliki ragam kisah geologi.

Bentuk masa kini Delta Mahakam dengan ragam anak sungai, mangrove hingga terumbu nya, bisa dikembangkan menjadi ragam cerita kegeologian luar biasa bagi awam maupun para peneliti kebumian pada jenjang lokal hingga internasional. Ditambah, identifikasi keragaman flora/fauna yang banyak dikerjakan kawan-kawan di Kementerian LHK, serta keragaman budayanya, yang banyak dikerjakan kawan-kawan di Kementerian Dikbud. Bentuk lahan, beda bentang alam, akan membentuk keanekaragaman vegetasi/flora-fauna.

Perbedaan ragam bentuk lahan dan flora-fauna kawasan, mempengaruhi pola sebaran dan hunian serta aktivitas masyarakat dan perkembangan kebudayaan.

Hal – hal ini lah yang mengakibatkan berbedanya potensi dan perkembangan di masing-masing daerah. “ Ungkap, Fajar Alam selaku Ketua IAGI PENGDA Kaltim.

Tak lupa juga ia menambahkan Pemerintah daerah provinsi Kalimantan Timur, harus melakukan percepatan pengalihan APBDnya dari sektor yang selama ini lebih kepada "Food Gathering" alias sekedar mengambil apapun yang ada di alam, menjadi "Food Producing"; mengolah kekayaan alam dengan konsep konservasi berkelanjutan. Hal ini telah dimulai dengan migrasi dari Hak Pengusahaan Hutan ke Hutan Tanaman Industri, pun juga perkebunan sawit. Namun, itu masih kurang. Sektor pariwisata berbasis keragaman alam dan budaya, dinilai memiliki potensi baik namun belum tampak dukungannya dalam struktur APBD. Padahal, negara tetangga tak kurang dari Malaysia, Singapura dan Thailand kini menjadikan sektor pariwisata sebagai bagian dari penopang utama perekonomian negaranya.

Komentar