Menakar Potensi Sungai Karang Mumus Jadi Wisata Kota: Penuhi Tiga Indikator Pariwisata, Bangun Kesadaran Masyarakat

Menakar Potensi Sungai Karang Mumus Jadi Wisata Kota: Penuhi Tiga Indikator Pariwisata, Bangun Kesadaran Masyarakat

Samarinda, Sungai Karang Mumus (SKM) memiliki potensi menjadi produk wisata kota. Tentu saja apabila dikembangkan dengan baik.

Incaran cuan dari wilayah ini pun sudah dilirik. Beberapa asosiasi pengusaha di sektor wisata sudah beberapa kali menyusuri wilayah itu. Untuk mencari potensi. Yang bisa dijual kepada pengunjung.
Terkait berbagai asosiasi yang sudah memetakan potensi di SKM. Bagaimana tanggapan pemerintah? Dalam hal ini ialah Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim?

Ditemui di ruang kerjanya, Kepala Dispar Kaltim Sri Wahyuni menjelaskan susur SKM memang akan menjadi produk wisata baru Kota Tepian.

Tetapi ada 3 hal yang harus diperhatikan. Agar bisa menjadikan SKM sebagai produk wisata. Yakni infrastruktur, amenitas, dan atraksi wisata. “Tiga hal itu harus dipenuhi untuk bisa menjadi purnajual,” ucapnya, Rabu (10/2).

Untuk infrastruktur, Sri Wahyuni menjelaskan posisi dermaga di SKM harus ada pemetaan yang pas. Lalu, parkir di tiap dermaga juga harus membuat pengunjung nyaman serta aman.

Kemudian amenitas. Moda transportasi menggunakan perahu harus yang layak. Bisa saja kapal tradisional yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa. Untuk jadi kapal wisata.

“Atmosfirnya dibangun dari situ. Pengunjung akan merasa sudah berwisata, karena kan sudah naik kapal wisata, pasti orang akan berpikir ‘oh saya lagi wisata ini’. Dan harusnya begitu,” tuturnya.

Wisata susur sungai ini juga sangat dekat dengan potensi ekowisata. Kata Sri, hal itu perlu digarisbawahi. Dengan membuat aturan tertentu. Seperti larangan membawa makanan dan minuman di kapal.

Hal itu tentu beralasan. Sri khawatir soal pembuangan sampah ke sungai. Tak berarti melarang hak privasi pengunjung. Tetapi bagi Sri, itu sebagai jaminan kepada pengunjung dan juga pengelola kapal wisata. Agar tetap menjaga keasrian sungai. “Mesin (kapal) juga harus ramah lingkungan,” ucapnya.

Kemudian amenitas lain ialah soal biaya. Dan juga pusat informasi. Sri mengucapkan, produk wisata harus jelas soal durasi waktu, jadwal, dan tarif.

Jumlah maksimal penumpang di dalam kapal juga harus dipertegas. Apalagi mengingat pembatasan jarak harus diperhatikan. Mengingat situasi saat ini tengah pandemi.

“(Kapal wisata) Harus berstandar. Dan sertifikasi CHSE (Cleanliness, Healthy, Safety, Enviroment Sustainability),” tegasnya.

Soal atraksi, bagi Sri ini yang paling penting. Karena harus memberikan kesan kepada pengunjung. Pengunjung harus mendapatkan pengalaman saat berwisata. Misalnya soal sejarah SKM yang diulas oleh tour guide.

Atau jika tidak ingin menggunakan tour guide, cerita sejarah itu bisa saja disampaikan menggunakan rekaman suara. Yang tentu dipasang di setiap kapal dan di pintu masuknya.

“Kecepatan mesin, serta tempo dari suara untuk penjelasan mengenai historis, harus pas. Jadi seperti story telling. Imajinasi pengunjung akan hidup karena itu,” jelasnya.

Empati pengunjung, tegas Sri, memang harus dibangun. Mulai dari cerita soal sejarah sungai, kemudian kesadaran pengunjung untuk menjaga lingkungan. Tak kalah pentingnya melibatkan komunitas.
Kenapa dari komunitas? Peran komunitas dijelaskan Sri, untuk mempertegas aktivitas yang mendukung purnajual SKM. Mereka juga memberikan peran penting.

“Ketika pengunjung tahu bahwa wilayah itu ada yang jaga, itu baik. Alamnya bisa dipertontonkan tentunya,” tambahnya.
Upaya dari pemerintah tentu saja ada. Diungkapkan Sri, bisa saja dengan cara membuat vertical garden. Vertical garden yang dimaksud Sri ialah mengubah teras rumah masyarakat sekitar. Kemudian dijadikan taman hias secara vertikal.

Perwajahannya pun akan merubah tampilan SKM. Serta merubah mindset masyarakat. Vertical garden bisa diisi dengan tanaman sayur-sayuran. Atau buah-buahan.

Namun, semua itu baru pemikiran awal. Harus ada perencanaan. Juga memerlukan waktu. Apalagi semua pihak harus dilibatkan. Terutama masyarakat.

Sri menegaskan perlu adanya alur yang harus dibuat. Pemetaan titik yang punya nilai cerita harus diperhatikan. Dan membangkitkan empati pengunjung.

“Setelah itu tinggal pemerintah kota saja yang men-treatment SKM untuk menjadi produk wisata yang bisa bernilai kontinuitas,” lugasnya.

Sri kembali menegaskan soal infrastruktur. Yang harus berkonsep jangka panjang. Dan komitmennya harus benar-benar sesuai.

Keterlibatan masyarakat juga penting. Karena mereka lah pengelola asli dari produk wisata itu nanti.
“Bisa saja tanaman hidroponik ditaruh di sana, yang menjaga masyarakat, dan kegiatan jual-beli juga ada,” lanjutnya.

Sejauh ini Sri menyambut baik ide dari asosiasi pariwisata. Tetapi harus ada perencanaan yang baik.
Soal beberapa pihak yang sudah melirik, kata Sri, prosesnya harus dikaji lagi. Agar tidak menjadi keputusan yang tergesa-gesa.

Pemanfaatan agen perjalanan juga memungkinkan. Tetapi, harus ada feedback yang diberikan pihak travel. Untuk menambah pemasukan asli daerah (PAD).

“Di pariwisata relatifnya harus melihat kondisi yang ada. Feedback juga harus diberikan. Biar produk pariwisata itu bisa continuous,” pungkasnya. (nad/eny)

Sumber : nomorsatukaltim.com

Komentar