Dialog Aktualisasi Pelaku Ekonomi Kreatif Kabupaten Paser

Dialog Aktualisasi Pelaku Ekonomi Kreatif Kabupaten Paser

Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur berencana menggelar rangkaian dialog bersama dengan para pelaku ekonomi kreatif di berbagai daerah kabupaten/kota. Pada kesempatan yang pertama, pelaku ekonomi kreatif di Kabupaten Paser yang disasar.

Bekerjasama dengan Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Paser, Dialog Aktualisasi Pelaku Ekonomi Kreatif telah dilaksanakan pada hari Sabtu, 06/03/2021 di Hotel Kyriad Sadurengas, Tanah Grogot.

Pada dialog yang diikuti oleh kurang lebih 20 pelaku ekonomi kreatif Kabupaten Paser ini dihadiri oleh Sri Wahyuni, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur dan Yusuf Sumako, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata, Kabupaten Paser. Dalam kesempatan ini juga turut dihadirkan Dr. Erwiantono dan Dr. Heru Susilo, akademisi dari Universitas Mulawarman yang merupakan Tim Fasilitator Peta Jalan Pengembangan Ekonomi Kreatif Daerah Kalimantan Timur 2021-2025.

Saat menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan, Lukman, Kepala Bidang Pengembangan Karya Seni Budaya yang juga membidangi Ekonomi Kreatif mengatakan bahwa peserta mewakili sektor ekonomi kreatif yang menjadi unggulan yang meliputi Seni Pertunjukan, Kriya, Musik, Fashion, Videografi dan Games.

Yusuf Sumako, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Paser Ddalam sambutannya menyampaikan penghargaan atas inisiatif yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim. Menurut Yusuf, Disporapar Kabupaten Paser sulit untuk melaksanakan kegiatan semacam ini karena keterbatasan.

“Kegiatan seperti ini tak akan terlaksana tanpa keterlibatan Dinas Pariwisata Provinsi,” ucap Yusuf seraya menyampaikan apresiasi atas kehadiran Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim dalam acara tersebut.

Terkait anggaran di Disporapar Kabupaten Paser, Yusuf sambil bergurau mengatakan jika dinasnya kerap dijuluki sebagai dinas pengemis karena sering harus meminta kesana-kesini untuk melakukan kegiatan.

“Banyak kegiatan di dinas yang terkait dengan pemuda, olahraga dan wisata bisa terlaksana karena bantuan pihak ketiga,” ucapnya.

Diakui oleh Yusuf dengan keterbatasan anggaran sentuhan dari pemerintah daerah atas ekonomi kreatif masih tipis {minim}. Meski demikian dirinya bangga ternyata hal itu tidak membuat ekonomi kreatif di Kabupaten Paser menjadi kerdil. Sebab sampai dengan saat ini komunitas ekonomi kreatif telah tumbuh dan terus berkembang.

“Ada kurang lebih 60 komunitas ekonomi kreatif di Kabupaten Paser. Termasuk diantaranya adalah komunitas e-sport,” ujarnya.

Menanggapi apa yang disampaikan oleh Kepala Disporapar Kabupaten Paser, Sri Wahyuni, Kepala Dispar Provinsi Kaltim dalam sambutan pembukaan menyampaikan bahwa roh pengerak dari ekonomi kreatif adalah kolaborasi.

Tentu saja kompetisi tak bisa dihindari, namun yang dimaksudkan sebagai kompetisi adalah berlomba untuk menjadi yang terbaik. Dan dalam iklim kreatif menjadi yang terbaik tak mungkin bisa dilakukan sendiri, oleh karenanya kolaborasi menjadi kunci.

“Tugas pemerintah adalah memberi arahan strategis, soal bagaimana dan kemana sebagai potensi yang ada akan dikembangkan,” ujar Sri Wahyuni.

Lebih lanjut Sri Wahyuni menyampaikan bahwa Kalimantan Timur mempunyai bonus demografi berupa kelompok usia produktif yang sangat banyak, Kalimantan Timur juga ditetapkan sebagai lokasi IKN yang baru dan visi misi pembangunan dari Gubernur Kaltim yang menetapkan pariwisata berbasis masyarakat sebagai pengerak ekonomi baru di Kalimantan Timur paska tambang.

“Ekonomi kreatif adalah bagian integral dari pariwisata, oleh karenanya penting untuk memberikan energi untuk memajukannya,” tandas Sri Wahyuni.

Peran penting dari ekonomi kreatif ini kemudian membuat Provinsi Kaltim dipilih menjadi salah satu dari 5 provinsi di Indonesia untuk menjadi model penyusunan Peta Jalan Pengembangan Ekonomi Kreatif Daerah {TALANPEKDA}.

Peta Jalan ini telah berhasil disusun lewat proses partisipatif. Dan rencananya akan dikonsultasikan ke Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk mendapat persetujuan. Setelah itu akan diserahkan kepada Gubernur Kalimantan Timur untuk ditetapkan sebagai kebijakan.

“Jika tidak ada halangan, bulan ini proses penetapan Peta Jalan Pengembangan Ekonomi Kreatif Daerah Kalimantan Timur 2021-2025 bisa diselesaikan. Dokumen ini akan diserahkan kepada Gubernur Kaltim dengan dihadiri oleh kepala daerah Kabupaten/Kota se Kalimantan Timur. Dalam kesempatan ini akan dilakukan juga penandatanganan komitmen dari seluruh kepala daerah untuk memajukan ekonomi kreatif di wilayahnya masing-masing,” terang Sri Wahyuni.

Terkait dengan Dialog Aktualisasi Pelaku Ekonomi Kreatif Kabupaten Paser ini, Sri Wahyuni menyampaikan bahwa dialog menjadi bagian dari sosialisasi dari Peta Jalan Pengembangan Ekonomi Kreatif Daerah Kaltim 2021-2025 kepada para pihak sekaligus sebagai upaya untuk menyelami dan mendalami realitas dan dinamika perkembangan ekonomi kreatif di daerah.

“Dari dialog ini kami berharap bisa mendapat pemahaman apa yang dibutuhkan untuk mempercepat perkembangan ekonomi kreatif di Kabupaten Paser khususnya dan di Provinsi Kaltim umumnya. Mari kita rumuskan dan sampaikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Sehingga apa yang nanti akan pemerintah tetapkan sebagai dukungan adalah sebuah kebijakan yang tepat,” ujarnya.

Mempercepat Pertumbuhan Ekosistem Ekonomi Kreatif

Berkaca dari pondasi ekonomi yang selama ini menopang pembangunan di Provinsi Kalimantan Timur, ekonomi yang didasari oleh ekstraksi sumberdaya alam karena potensi atau cadangannya yang besar namun justru menghasilkan banyak persoalan baik dari sisi sosial, budaya maupun lingkungan hidup, ekonomi kreatif menemukan momentumnya untuk menjadi sebuah paradigma baru sebagai pengerak ekonomi utama Kalimantan Timur.

Sesuai dengan wataknya yaitu kreatif, maka ekonomi kreatif tidak melandaskan diri pada seberapa besar sumberdaya yang kita miliki, melainkan pada cara yang tepat untuk memanfaatkannya agar tetap lestari dan berkelanjutan.

Belajar dari gejolak ekonomi di masa pandemi Covid 19 yang membuat hampir semua sektor mengalami guncangan, kemunduran dan bahkan kematian, ekonomi kreatif justru secara lentur mampu melakukan penyesuaian dan menemukan cara baru bukan hanya untuk bertahan melainkan juga berkembang.

Erwiantono, selalu koordinator tim fasilitasi penyusunan Peta Jalan Pengembangan Ekonomi Kreatif Daerah Kalimantan Timur dalam paparannya menekankan pentingnya semangat untuk mau belajar kepada semua pihak. Menurutnya semangat belajar ini merupakan elemen penting sebab selama ini kita telah dikungkung oleh model ekonomi yang rakus mengektraksi sumber daya alam tak terbarukan. Model ekonomi tebang, keruk, sedot dan urug yang menyebabkan perubahan bentang alam secara drastis sehingga menghilangkan banyak potensi ekonomi yang sebenarnya bisa dimanfaatkan secara lestari.

“Sampai kapan kita akan terus ngarepin tambang?” tanyanya.

Tentu saja tambang tak bisa terus menerus diharapkan, selain bersifat merusak, ekonomi berbasis tambang juga bersifat labil karena komoditas tambang harganya fluktuatif, tergantung pembeli dan juga menghasilkan ketergantungan lainnya entah itu investasi maupun teknologi.

Dengan mengantungkan diri pada tambang maka apa yang menjadi cita-cita pembangunan provinsi Kalimantan Timur yakni Kaltim Berdaulat menjadi akan sulit dicapai. Sebab ekonomi yang berbasis tambang hanya menjadikan masyarakat Kaltim sebagai penonton, menyaksikan kekayaan alamnya diambil dan dibawa keluar. Memang membawa keuntungan namun hanya sesaat dan kemudian meninggalkan beban kerusakan yang butuh waktu lama serta biaya besar untuk memulihkannya.

Namun proses perubahan dari ekonomi ekstraktif ke ekonomi kreatif membutuhkan pondasi dan kesadaran yang berbeda. Senada dengan yang diungkapkan oleh Sri Wahyuni, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim dalam sambutan pembukaan, Erwiantono kembali menegaskan soal partisipasi dan kolaborasi.

“Subyek dari ekonomi kreatif bukan hanya para pelaku ekonomi kreatif, melainkan juga satuan pendidikan, komunitas kreatif, pemerintah dan media komunikasi,” ujarnya menerangkan pentahelix atau lima unsur kekuatan untuk membangun ekonomi kreatif.

Partisipasi dan kolaborasi dari kelima pihak ini yang akan menentukan apakah ekosistem ekonomi kreatif akan terwujud atau tidak.

Sejauh ini bahkan tanpa sentuhan khusus atau business as usual {BAU}, data menunjukkan bahwa ekonomi kreatif menjadi sektor yang terus mengalami pertumbuhan dalam lima tahun terakhir.

Heru Susilo, salah satu anggota tim penyusun Peta Jalan Pengembangan Ekonomi Kreatif Daerah Kalimantan Timur dalam paparannya menjukkan serangkaian data terkait peran ekonomi kreatif dalam menopang ekonomi negara dan masyarakat.

“Berbagai data menunjukkan bahwa urgensi pengembangan ekonomi kreatif di masa depan tak bisa kita abaikan lagi,” ujarnya.

Menurut Heru Susilo, berdasarkan data, ekonomi kreatif telah menunjukkan kontribusi dalam mendorong peningkatan pemanfaatan sumberdaya alam berkelanjutan, menaikkan citra dan identitas bangsa karena berbasis pada warisan budaya dan nilai lokal, dampak ekonomi yang luas karena menciptakan lapangan kerja/usaha serta dukungan pada sektor lain, dampak sosial karena meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan lingkungan sosial, penghargaan dan toleransi pada potensi serta kekayaan masyarakat lainnya, menumbuhkan inovasi dan kreatifitas karena ekonomi kreatif selalu ditopang oleh kebaharuan.

Menegaskan apa yang disampaikan Heru Susilo, Erwiantoro mengatakan bahwa arus perubahan yang disebut sebagai ekonomi kreatif tak terhindarkan lagi. Alasan penguatnya bukan hanya proyeksi atau prediksi melainkan argumen-argumen yang berbasis data.

Jika sudah tiba pada masanya, perubahan memang tak mungkin bisa dibendung lagi. Dan ini adalah saatnya ekonomi kreatif menemukan momentum perubahannya di Provinsi Kalimantan Timur.

Peta Jalan Pengembangan Ekonomi Kreatif Daerah Kalimantan Timur 2021-2025 akan menjadi kanal agar arus perubahan ini berada dalam jalan yang tepat dan terarah sehingga ekonomi kreatif akan menjadi motor pengerak utama mewujudkan semangat berani berdaulat untuk Kalimantan Timur.

Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh tim penyusun Peta Jalan Pengembangan Ekonomi Kreatif Daerah Kalimantan Timur, telah dipilih enam sub sektor unggulan yaitu : Kuliner, Kriya dan Wastra, Aplikasi dan Game Developer, Fotografi/Video/Film dan Musik.

“Sektor unggulan ini merupakan hasil pemeringkatan persepsi yang diperoleh dari serangkaian penelitian, kajian dan seri dialog dengan para pihak. Hasil ini tidak bermaksud untuk mengecilkan sub sektor industri kreatif lainnya,” ujar Erwiantono.

Senada dengan itu dalam sambutan penutupan acara Dialog Aktualisasi Pelaku Ekonomi Kreatif Kabupaten Paser, Sri Wahyuni terus mengikuti dinamika dialog menyebutkan bahwa sub sektor prioritas dimaksudkan agar langkah untuk menumbuhkan ekosistem yang mendukung tumbuhnya ekonomi kreatif bisa lebih fokus.

Sri Wahyuni memungkasi acara dialog dengan mengungkapkan kegembiraannya karena telah menemukan mutiara-mutiara yang mulai bersinar dalam ekonomi kreatif di Kabupaten Paser.

“Tidak salah kami memilih Kabupaten Paser sebagai tempat pertama untuk melakukan dialog ini. Ternyata apa yang kami temukan tidak meleset dari apa yang ada dalam peta jalan pengembangan ekonomi kreatif. Dialog ini telah memberi energi yang semakin besar kepada kami karena ternyata di Paser, telah lahir dan berkembang pelaku ekonomi kreatif yang berhasil menembus persaingan di tingkat global,” pungkas Sri Wahyuni.

Komentar