Akankah Virtual Tour Mematikan Tur Yang Sesungguhnya?

Akankah Virtual Tour Mematikan Tur Yang Sesungguhnya?

Internet membuat lanskap kehidupan berubah dengan sangat cepat. Ada banyak model, sistem atau platform yang segera menjadi usang, tergeser dan tergantikan oleh moda baru yang berbasis online atau virtual.

Pada bidang ekonomi dan perdagangan, banyak mall, supermarket, toko atau outlet tutup karena bertumbuhnya perdagangan online dan marketplace. Sementara dalam bidang transportasi, moda transportasi tradisional yang tidak mampu beradaptasi dan mengembangkan sistem pemesanan serta pembayaran online akhirnya tumbang. Ojek pengkolan misalnya kini hanya tersisa menjadi judul sinetron.

Demikian juga dalam bidang pewartaan, media massa seperti radio, koran, majalah dan televisi semakin kehilangan pamor dan konsumennya karena kemunculan berbagai platform media baru yang berbasis internet.

Kehadiran sebuah produk baru selalu mempunyai dampak menggeser produk yang lama. Yang lama segera menjadi usang termasuk reputasinya. Akankah ini juga berlaku untuk bidang pariwisata, ketika di masa era baru muncul banyak layanan virtual tour.

Menjawab kekhawatiran beberapa pihak terkait dengan perkembangan dan kepopuleran virtual tour, Muchdlir Johar Zauhary, Chief Finacial dan Partnership Officer Atourin mengatakan bahwa sampai 100 tahun ke depanpun, virtual tour belum akan mengalahkan tur yang sesungguhnya atau kunjungan langsung ke sebuah destinasi.

Sebagai salah satu pioner pengembang virtual tour, Autorin menganggap bahwa virtual tour adalah sebuah alternatif berwisata bukan substitusi wisata model baru.

“Virtual tour adalah pemanfaatan teknologi perjalanan yang tak mungkin mengantikan pengalaman berwisata di lapangan. Ini merupakan sebuah pengalaman untuk jalan-jalan dan beli oleh-oleh dari rumah. Dan virtual tour juga merupakan pre tour, atau cara untuk mempromosikan destinasi wisata agar kelak wisatawan sungguh datang ke tempat itu,” terang Johar yang berduet dengan Benarivo Triadi Putra, Chief Executive Officer Atourin sebagai narasumber dalam Pelatihan Pembuatan Video Kreatif Daya Tarik Wisata. Yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim di Samarinda.

Alasan terkuat yang membuat virtual tour tidak mampu menggeser kunjungan langsung ke lokasi wisata adalah fakta virtual tour hanya akan menyentuh indera penglihatan dan pendengaran, sementara kunjungan fisik akan melibatkan indera penciuman, perasa dan lain sebagainya.

“Sehebat apapun sebuah paket virtual tour tetap saja pengalamannya akan berbeda ketika dibandingkan dengan hadir langsung secara fisik di lokasi wisata,” tegas Johar.

Bahwa virtual tour mempunyai beberapa keunggulan dibanding dengan kunjungan langsung memang tak bisa disangkal. Dari segi waktu virtual tour bisa menyingkat dan mengefektifkan waktu dalam mengunjungi sebuah destinasi. 1 sampai dengan 2 jam virtual tour bisa mewakili 1 hari dalam kunjungan fisik.

Demikian juga dengan biaya. Virtual tour membuat kunjungan wisata menjadi jauh lebih murah. Siapapun bisa dengan mudah mengikuti jika ingin berlibur dari rumah, keliling negeri bahkan hingga ke luar negeri. Virtual tour juga membuat peserta bisa lebih fokus melihar dan mendengarkan apa yang disajikan lewat gadget, pc atau laptopnya.

“Dan tentu saja virtual tour juga bisa menjadi cara untuk menilai apakah sebuah destinasi yang belum pernah dikunjungi kelak akan dipilih untuk dikunjungi secara langsung atau tidak,” lanjut Johar.

Menjadi jelas bahwa virtual tour maupun kunjungan langsung ke destinasi wisata mempunyai keunggulan masing-masing. Keduanya bukan saling mengantikan melainkan saling melengkapi.

Sebagai sebuah inovasi dalam perjalanan wisata, virtual tour akan sangat berguna pada situasi tertentu. Seperti situasi pandemi. Jika dirancang secara kreatif dan inovatif, virtual tour bisa menjadi sebuah materi pembelajaran bagi para siswa, karena dalam satu atau dua mata pelajaran mereka bisa belajar hal tertentu lewat sebuah paket virtual tour tematik.

Demikian juga dengan perusahaan atau lembaga lainnya yang tetap bisa melaksanakan outing secara aman dan mengembirakan lewat virtual tour.

“Di masa pandemi atau awal era normal baru, virtual tour juga bisa menjadi cara agar para pemandu wisata bisa tetap memperoleh pendapatan, lewat virtual tour berbayar, berdonasi atau yang menyertakan kesempatan kepada peserta untuk membeli oleh-oleh,” terang Johar.

Fakta di balik virtual tour adalah kegiatan ini dapat dilakukan oleh siapapun dengan mudah. Virtual tour juga dapat dipergunakan untuk berbagai kegiatan baik yang berorientasi profit maupun non profit. Dan sebagai model atau cara baru berwisata ternyata virtual tour mempunyai peluang pasar komersil.

Atas dasar itu sebagai prusahaan teknologi kepariwisataan, Atourin telah melakukan banyak pelatihan dan membangun kemitraan dengan para pemandu wisata di berbagai penjuru Indonesia untuk mengembangkan paket virtual tour semenjak pandemi Covid 19 merebak.

“Tidak sulit untuk mengembangkan paket virtual tour. Sebab platform yang kita pakai adalah aplikasi yang sudah kita kenal atau bahkan kita pakai sehari-hari. Kita semua pasti tidak asing dengan google,” terang Benarivo.

Sebelum memperkenalkan cara pembuatan konten melalui platform google, Benarivo menerangkan tahapan pengembangan virtual tour yang meliputi persiapan, pemasaran serta pelaksanaan dan evaluasi.

Kegiatan persiapan meliputi penentuan tema, platform dan metode penyampaian serta konten pendukung. Sedangkan dalam tahap pemasaran kegiatan yang dilakukan adalah penetapan harga, pemilihan saluran promosi dan pengelolaan pendaftaran peserta. Sementara tahap pelaksanaan dan evaluasi meliputi pengelolaan kegiatan pada hari H, penyelesaian masalah yang biasa dihadapi dan evaluasi paska kegiatan.

Untuk paket virtual tour yang isinya tidak diproduksi sendiri atau disiarkan secara langsung lewat aplikasi streaming, Benarivo memperkenalkan pengumpulan konten yang berasal dari google map dan google street view. Yang dimaksudkan dengan konten adalah gambar atau foto, baik foto biasa maupun foto 360 yang ada di google.

“Untuk menyusun rute, kita bisa memakai google map atau google tour creator,” terang Benarivo.

Namun lebih disarankan untuk memakai google tour creator karena didalamnya ada berbagai fasilitas untuk menyusun virtual tour secara runut scene demi scene dari titik awal berangkat hingga titik akhir.

“Google tour creator juga mempunyai fasilitas add point untuk menambahkan foto yang lebih detail pada titik tertentu, menambahkan suara latar atau ambien dan juga rekaman suara yang berisi informasi atau penjelasan tentang lokasi tertentu,” lanjut Benarivo.

Hasil dari penyusunan virtual tour dengan google tour ceator yang telah diberi judul ini kemudian akan dipresentasikan sebagai tour virtual lewat platform Zoom atau yang sejenisnya dengan cara screen share.

Dengan metode seperti ini seorang pemandu wisata bisa membuat paket virtual tour dimana saja, tidak harus di daerah dia tinggal atau berada. Paket virtual tour bisa dibuat atau tidak tergantung pada kesediaan konten yang ada di google map atau google street view.

“Konten di google adalah hasil dari google sendiri atau kontribusi dari pemakai google. Kita bisa memperbanyak atau membuat konten di sebuah daerah tertentu dengan cara mengupload foto, foto spere atau foto 360,” papar Benarivo sambil menerangkan cara mengambil foto 360 dan menguploadnya ke google map.

Sessi pelatihan hari pertama yang diisi oleh Johar dan Benarivo kemudian ditutup dengan tugas kelompok untuk membuat rancangan virtual tour yang meliputi virtual tour umum dan virtual tour tematik.

 

Dikutip dari : https://kesah.id/akankah-virtual-tour-mematikan-tur-yang-sesungguhnya/

Komentar